Sadis, Ramai-Ramai Mencincang Beruang Madu lalu Dimasak Rendang

Liputan6.com, Pekanbaru – Empat beruang madu dewasa di Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, meregang nyawa setelah kakinya masuk ke jerat babi. Keempat satwa dilindungi itu lalu dikuliti, dicincang, lalu dagingnya dibuat rendang, dan tulangnya dijadikan sop.

Peristiwa pada awal April 2018 ini mendapat kecaman dari masyarakat karena pembantaiannya tersebar di media sosial. Setidaknya empat orang ditangkap dan satu orang dinyatakan buron dalam kasus ini.

Keempat pelaku, masing-masing Julkiply Pangihutan Dolok Pasaribu, Gantisori, Fransiskus, dan Junus, sudah divonis di Pengadilan Negeri Tembilahan, Riau. Mereka mendapat ganjaran dua tahun penjara atas perbuatannya sadis itu.

“Sudah vonis di pengadilan, kalau gak salah dua tahun vonisnya. Beberapa bulan lalu vonisnya,” kata Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera II Eduard Hutapea kepada Liputan6.com, Rabu (28/11/2018).

Apakah keempat pelaku mengajukan perlawanan hukum lanjutan atau banding, pria dipanggil Edo itu tidak mengetahui. Menurutnya, Gakkum LHKH hanya menyidik sementara penuntutan sudah wewenang kejaksaan setempat.

Salah satu pelaku, Julkiply Pangihutan Dolok Pasaribu ketika diwawancara wartawan pada April silam menjelaskan, sebelum kejadian memasang 50 jerat babi hutan di Desa Karya Tunas dan Desa Mumpa pada 18 Maret 2018.

Tak ada niat Julkiply bersama tiga pelaku lainnya menangkap beruang madu, memang murni untuk babi hutan. Hanya saja, ketika empat beruang masuk jerat, para pelaku menombaknya dan dikonsumsi bersama warga desa.

“Saya gak tahu pak kalau beruang itu dilarang ditangkap dan dimakan,” kata Julkiply ditemui wartawan di Kantor BBKSDA Riau, Jalan HR Soebrantas Kota Pekanbaru kala itu.

Jul menceritakan, jerat yang dipasang dicek pada pada 30 Maret 2018 bersama tiga rekannya, yaitu Gantisori, Fransiskus, dan Junus. Awalnya ada tiga ekor yang terjerat, satu di antaranya sudah mati. Dua ekor tadi berusaha melepas jeratan dengan menggigit serta berusaha menyerang Jul bersama rekannya.

“Langsung saya tombak. Karena masih hidup, kawan yang lain memukulnya pakai kayu hingga tak bergerak lagi,” sebutnya.

Tiga beruang tadi kemudian dibawa ke desa. Tepat di bawah sebuah pohon sawit, Jul dengan tiga rekan bersama warga lainnya mulai menguliti. Dagingnya kemudian dibagi kepada warga sekitar.

“Dibuat rendang pak. Kalau bagi saya enaklah dagingnya,” sebut Jul.

Pada 1 April 2018, Jul kembali mengecek jeratnya dan mendapati tangkapan yang sama. Beruang madu ini sempat dimasukkan ke kandang hingga akhirnya ditembak pakai senapan angin. Beruang terakhir ini juga mengalami nasib serupa dengan tiga beruang terdahulu. Dadingnya dibagikan kepada warga untuk dikonsumsi dan Jul mengambil empedunya.

“Empedu beruang madu ini katanya bisa mengobati sakit asma,” sebut Jul sambil memperlihatkan empedu yang masih tersisa di kantong plastik.