Tidak Laku di Eropa, Starbucks Tutup Kantor

Demi ikut serta dalam menjaga lingkungan, Starbucks mengumumkan rencana mereka untuk menghentikan pemakaian sedotan plastik di gerai mereka.

Hal ini diungkapkan pihak Starbucks di situs resmi mereka. Menyetop pemakaian sedotan disebut sebagai respons atas permintaan dari mitra dan konsumen mereka.

“Langkah ini adalah jawaban dari mitra kami terkait apa yang bisa kami lakukan untuk mengurangi pemakaian sedotan. Tidak memakai sedotan adalah hal terbaik yang bisa kami lakukan demi lingkungan ” ucap Colleen Chapman, wakil presiden Starbucks padadampak sosial global.

Starbucks juga sedang gencar mengajak pelanggan untuk ikut gerakan BYOT (Bring Your Own Tumbler, Bawa Sendiri Tumblermu) dengan tujuan mengurangi pembuangan. Pihak perusahaan pun mulai menjual gelas yang bisa digunakan kembali (reusable). Sayangnya, sejauh ini produk itu belum dijual di seluruh dunia.

Sisa-sisa pembuangan materi berbahan plastik, seperti sedotan, ternyata cukup menyakiti lingkungan, terutama lautan. Berdasarkan data dari Get Green Now, sedotan plastik ada di urutan 11 dalam daftar sampah plastik yand ditemukan di laut.

Hasilnya, 1 juta burung laut dan 100 ribu hewan laut mati karena memakan plastik. Ditambah lagi, butuh 200 tahun sampai plastik bisa tercerai berai.

Selain Starbucks, perusahaan-perusahaan besar lain juga telah bertindak untuk mengurangi pemakaian sedotan plastik, di antaranya adalah McDonald’s dan hotel Marriot International.